Beribadah Karena Takut Riya adalah RIYA

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalwat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Riya’ adalah memperlihatkan amal kepada orang lain agar dipuji. Padahal dalam beramal, seseorang haruslah berharap kepada Allah semata. Maka siapa berbuat riya’ ia telah mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akibatnya, amal yang terjangkiti penyakit riya’ tidak akan diterima oleh Allah dan pelakunya mendapat ancaman keras dari-Nya.

Dari Mahmud bin Labid Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)

Diriwayatkan dari Abu Said Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian daripada al-Masih al-Dajjal?” Para sahabat menjawab, “Baiklah, Ya Rasulallah.” Beliau bersabda:

الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Yaitu Syirik Khafi (samar), seseorang berdiri shalat lalu memperbagus shalatnya karena tahu ada seseorang yang memperhatikannya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad. Dishahihkan al-Albani dalam al-Misykah, no. 4194)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Sekutu Yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik. Siapa yang menjalankan satu amalan, dia menyekutukanku dengan selainku dalam amalannya tersebut, maka aku tinggalkan dia dan (tidak aku terima) amal syiriknya tersebut.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang makna di atas, “Aku (Allah) tidak butuh dari persekutuan dan selainnya. Maka siapa yang mengerjakan satu amalan untuk-Ku dan untuk selain-Ku Aku tidak akan menerimanya. Bahkan Aku tinggalkan amal itu untuk selain-Ku itu. Maksudnya bahwa amalan orang berbuat riya’ adalah batil, tidak diberi pahala, dan ia berdosa dengan amal itu.” (Syarah Nawawi ‘ala Muslim, no. 5300)

Meninggalkan Amal Karena Takut Riya’

Memang seharusnya seorang muslim takut dan khawatir terhadap riya’. Namun tidak boleh berlebihan sehingga menyebabkannya meninggalkan amal shalih dan ketaatan. Karena meninggalkan amal karena takut riya’ termasuk tipu daya syetan. Karena setan, pada satu kondisi berusaha menjerumuskan seorang hamba ke dalam riya untuk merusak amalnya. Pada kondisi yang lain menipunya dengan meninggalkan amal karena takut riya’ supaya tidak melakukan amal shalih. Padahal dia diperintahkan untuk beramal dan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan dengan berharap ridha Allah dan meninggalkan godaan setan dan tipu dayanya. Maka siapa yang sudah berazam menjalankan satu ibadah lalu meninggalkannya karena takut riya’, sebenarnya dia telah berbuat riya’. Karena dia meninggakan amal karena manusia. Tetapi jika meninggalkannya untuk dikerjakan saat sendirian, maka ini dianjurkan kecuali pada amal-amal wajib.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, sedangkan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas adalah apabila Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir, sebagaimana dalam kitab Al-Atsâr Al-Waridah ‘Anil Aimmah fi Abwabil I’tiqâd: 1/159, dan Syu’ab al-Iman, no. 6879)

Ibrahim al-Nakha’i berkata: Apabila syetan datang kepadamu saat kamu shalat, dan ia berkata: sesungguhnya kamu telah berbuat riya’, maka lamakanlah shalatmu.”

Adapun yang disebutkan dari kisah sebagian ulama salaf yang ia meninggalkan ibadah karena takut riya’, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibrahim al-Nakha’i bahwa ada seseorang yang datang menemuinya di saat beliau sedang membaca mushaf, lalu beliau menutup mushaf tersebut dan tidak melanjutkannya. Beliau beralasan, agar ia tidak manyangka bahwa aku membaca (Al-Qur’an) setiap saat. Maka dapat dipahami dari sini, bahwa mereka merasa ada sesuatu dalam dirinya yang mendorong untuk memperbagusnya yang karenanya mereka memutus amal tersebut.

Penutup

Takut dan khawatir terhadap riya’ tidak boleh menjadikan seorang muslim meninggalkan beramal shalih. Tapi haruslah ia tetap menjalankannya dengan sungguh-sungguh menjaga keikhlasan dan menjauhi riya’. Jangan lupa juga untuk memohon pertolongan kepada Allah dan memperbanyak doa:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أُشْرِكَ بِك وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُك لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad dan Shahih Abi Hatim serta yang lainnya, shahih).

Kemudian sanjungan dan pujian orang yang dilayangkan kepadanya atas amal shalih dan ketaatannya tidaklah membahayakan dirinya selama ia tidak berharap kepada sanjungan dan pujian tersebut. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu: Pernah disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Bagaimana pendapat Anda terhadap seseorang yang mengerjakan satu amal kebaikan dan dipuji oleh orang?” Maka beliau menjawab: Itu adalah kabar gembira yang diberikan kepada seorang mukmin.” Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*